BPSILHK Makassar

Eksplorasi Benih Bitti (Vitex cofassus) di Sulawesi Selatan

Oleh : C. Andriyani Prasetyawati, S.Hut,M.Sc.

PENDAHULUAN

Bitti (Vitex cofassus) merupakan jenis kayu unggulan Sulawesi Selatan. Bitti termasuk dalam famili Verbenaceae. Tinggi tanaman Bitti mampu mencapai 45 meter dengan diameter 80 cm. Kayu bitti banyak digunakan sebagai kayu perkakas, konstruksi rumah dan sebagai bahan untuk membuat perahu phinisi (perahu khas Sulawesi Selatan).
Jenis tanaman ini termasuk mudah tumbuh, tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang tinggi dan termasuk tanaman yang mempunyai kecepatan pertumbuhan sedang. Jenis ini mempunyai kemampuan tumbuh yang tinggi, tahan terhadap kebakaran, bila terbakar akan segera bertunas kembali. Oleh karena itu jenis ini mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu jenis andalan yang unggul.
Penyebaran tanaman ini di Sulawesi Selatan terdapat di Kab. Bantaeng, Enrekang, Bone, Bulukumba, Sidrap dan Selayar. Namun kelemahan tanaman ini bebas cabangnya yang rendah dan percabangannya banyak. Untuk mendapatkan kayu Bitti dengan kualitas batang yang bagus, lurus dan bebas cabangnya tinggi, perlu dilakukan kegiatan pemuliaan. Salah satunya adalah dengan membangun kebun benih dari pohon induk-pohon induk terpilih yang mempunyai kualitas yang bagus. Kegiatan pengumpulan/koleksi materi/buah dari pohon induk terpilih adalah eksplorasi.
Eksplorasi ini merupakan salah satu bagian penting dari kegiatan pembangunan kebun benih semai. Pembangunan kebun benih ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan benih bermutu bagi masyarakat. Eksplorasi merupakan kegiatan pengumpulan benih dari pohon induk-pohon induk terpilih, yang nantinya benih tersebut akan menjadi materi genetik yang akan di uji pertumbuhannya melalui uji keturunan.

KOLEKSI BENIH
Kegiatan koleksi benih bitti dilakukan di Kab. Bulukumba dan Kab. Bone. Eksplorasi dipilih pohon induk yang memenuhi syarat, yaitu bebas cabang tinggi, bebas dari hama dan penyakit serta pohon induk mempunyai penampakan yang relatif lebih bagus dibanding pohon bitti di sekitarnya. Jarak antar pohon induk adalah 50-100 m untuk menjaga pengambilan benih dari hasil perkawinan kerabat. Benih yang diambil dari hasil perkawinan kerabat akan mempunyai kualitas yang jelek dan ada kemungkinan kualitas bibitnya lebih rendah dari pada pohon induknya.

Pada saat koleksi/pengumpulan benih, juga dilakukan pengambilan data pohon induk yang dipilih, seperti tinggi total, tinggi bebas cabang, diameter batang, bentuk batang, lebar tajuk dan tinggi tajuk. Tiap pohon induk diberi nomor sehingga identitasnya jelas. Pengambilan buah harus hati-hati. Buah/benih yang telah diambil dimasukkan ke dalam kantong pelastik dan diberi nomor sesuai dengan nomor pohon induknya. Antar nomor pohon induk tidak boleh tercampur, sehingga masing-masing nomor menempati wadah yang berbeda dengan identitas yang jelas. Hal ini dimaksudkan agar identitas benih tidak hilang atau tercampur saat disemaikan di persemaian dan ditanam di lapangan nantinya. Karena masing-masing nomor akan diuji pertumbuhannya dan dilihat kenampakan fenotipnya di lapangan. Kegiatan eksplorasi/koleksi benih harus dilakukan tepat waktu agar tidak kehilangan materi yang menjadi bahan dalam pembangunan kebun benih, karena bila musim panen telah lewat dan benih jatuh ke tanah, maka identitas asal benih tidak diketahui lagi.
Koleksi benih bitti di kab. Bulukumba dilaksanakan pada bulan Juli 2011, sedangkan di Kab.

Bone dilaksanakan pada bulan September 2011. Ada perbedaan musim panen bitti antara di kab. Bulukumba dan kab. Bone. Buah bitti diambil yang sudah masak secara fisiologis, berwarna hitam dan masak serempak. Hasil eksplorasi pohon induk bitti di Kab. Bone, diperoleh 25 pohon induk dan di Kab. Bulukumba diperoleh 24 pohon induk.

KEGIATAN PERSEMAIAN
Hasil dari koleksi materi genetik, selanjutnya disemaikan di persemaian dengan diberi label yang jelas sesuai dengan label pada kantong plastik eksplorasi sehingga identitas tidak hilang. Buah hasil eksplorasi diekstraksi dan kemudian dikecambahkan dalam bak plastik yang telah diberi nomor sesuai nomor pohon induknya. Setelah benih berkecambah dan muncul sekitar 4 daun, kemudian dilakukan penyapihan dalam polibag yang telah berisi media tanah top soil : arang : sekam : kompos dengan perbandingan 4 : 1 : 1. Penyapihan harus dilakukan dengan hati-hati, agar tidak tertukar antar pohon induk. Tanaman yang telah disapih juga diberi nomor identitas yang jelas sehingga tanaman tidak tertukar/salah nomor pohon induknya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top